PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
MAKALAH
UNTUK
MEMENUHI TUGAS KULIAH
Manajemen Sumber Daya Manusia
yang dibina oleh Dr.Syihabudhin,
SE, MSi
oleh
Dwi Puji Pratiwi 140413600589
Evicha Wahyu Hamida 140413605559
Farah Zhafirah 140413602271
Halimatus Sadiyah 140413600050

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
Oktober
2015
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kita panjatkan atas kehadiran Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayahNya-lah sehingga kami dapat menyusun makalah yang berjudul “PENDIDIKAN DAN PELATIHAN”. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.
Pada
pembuatan makalah ini, Kami mengucapkan terimakasih kepada :
1.
Dosen
pengampu mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.
2.
Seluruh
anggota kelompok 4 yang sudah menyelesaikan makalah ini dengan seksama.
Dalam
penyusunan makalah ini, Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
pembuatannya, maka dari itu Kami mengharap saran dan kritik yang membangun
untuk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah berjudul “PENDIDIKAN DAN PELATIHAN” yang
telah Kami susun dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis
Malang, 5 Oktober 2015
DAFTAR
ISI
HALAMAN SAMPUL.............................................................................................. 1
KATA PENGANTAR
……………………………………………………………… 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 4
1.1.
Latar Belakang ................................................................................. 4
1.2.
Rumusan Masalah ............................................................................ 4
1.3.
Tujuan Penulisan Makalah ............................................................................. BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 6
2.1 Pendidikan
Karyawan....................................................................... 6
2.2
Pelatihan Karyawan.......................................................................... 12
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 25
3.1
Kesimpulan.......................................................................................
25
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pengembangan karyawan merupakan
bagian dari perencanaan sumber daya manusia di dalam suatu
perusahaan.Pengembangan karyawan penting dilakukan secara terencana dan
berkesinambungan.Pengembangan karyawan merupakan suatu investasi bagi
perusahaan, tentunya program pengembangan karyawan disusun dengan mekanisme
yang ada di dalam organisasi dengan orientasi jangka lama. Salah satu bentuk
pengembangan adalah melalui pendidikan dan pelatihan.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa program pengembangan melalui pendidikan dan pelatihan
sangat berdampak baik bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Pendidikan dan
pelatihan karyawan dapat meningkatakan kinerja seorang karyawan baik untuk
waktu sekarang maupun diwaktu yang akan datang sesuai dengan perkembangan
zaman. Akan tetapi, ada beberapa karyawan yang kurang termotivasi dalam
melaksanakan pekerjaannya, seehingga menurunkan produktivitas perusahaan. Oleh
karena itu, untuk menangani permasalahan seperti ini, suatu perusahaan perlu
mengadakan suatu program pendidikan dan pelatihan bagi karyawan.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang di maksud dengan pengembangan
karyawan?
2
Apa tujuan dan manfaat pengembangan
karyawan?
3
Bagaimana
cara-cara pengembangan karyawan?
4
Bagaimana
strategi-strategi yang digunakan dalam pengembangan karyawan?
5
Apa yang di maksud dengan pelatihan
karyawan?
6
Apa tujuan dan manfaat pelatihan?
7
Apa saja jenis-jenis pelatihan?
8
Bagaimana prinsip-prinsip pelatihan
karyawan?
9
Apa saja tahap-tahap penelitian?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk
memahami apa yang di maksud dengan pengembangan karyawan?
2. Untuk
memahami apa tujuan dan manfaat pengembangan karyawan?
3.
Untuk
mengetahui bagaimana cara-cara pengembangan karyawan?
4.
Untuk
mengetahui bagaimana strategi-strategi yang digunakan dalam pengembangan
karyawan?
5. Untuk
memahami apa yang di maksud dengan pelatihan karyawan?
6. Untuk
memahami apa tujuan dan manfaat pelatihan?
7. Untuk
mengetahui apa saja jenis-jenis pelatihan?
8. Untuk
mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pelatihan karyawan?
9. Untuk
mengetahui apa saja tahap-tahap penelitian?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 PENDIDIKAN KARYAWAN
A.
Definisi
Pendidikan
Organisasi yang sehat adalah organisasi
yang dapat melakukan tugas dan fungsi yang sebenarnya dengan baik demi mencapai
tujuan organisasi tersebut. Demi tercapainya tujuan organisasi, perlu adanya
beberapa faktor pendorong, salah satunya adalah dengan adanya pendidikan pada
karyawan.
- Pengertian pendidikan
Berikut
ini ada beberapa pengertian dari pendidikan, antara lain :
1. Dalam
petunjuk operasional Surat Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0161/U/1980 dijelaskan bahwa pendidikan atau pendidikan adalah suatu usaha yang
dilaksanakan secara sadar dan terencana dalam meningkatkan mutu para peserta
pendidikan dalam bidang pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap agar
lebih mampu dan mantap menjalankan tugas sesuai dengan jabatannya.
2. Sondang P. Siagian (1983:180) memberikan
pengertian terhadap kedua istilah itu : Pendidikan adalah keseluruhan proses,
teknik dan metode mengajar dalam rangka mengalihkan sesuatu pengetahuan dari
seseorang kepada orang yang lain dengan standart yang telah ditetapkan
sebelumnya. Sedangkan pelatihan adalah juga proses belajar mengajar dengan
menggunakan teknik dan metode tertentu.
3. Menurut John Dewey, pendidikan
adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin terjadi
didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Mungkin
pula terjadi dengan sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan
social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum
dewasa dan kelompok dimana dia hidup
B. Tujuan dan Manfaat Pendidikan
Karyawan
Menurut Matoyo (1992) tujuan pengembangan pendidikan karyawan
adalah dapat ditingkatkannya kemampuan, keterampilan dan sikap karyawan atau
anggota organisasi sehingga lebih efektif dan efisien dalam mencapai
sasaran-sasaran program ataupun tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Manullang (1980) tujuan pengembangan pendidikan
pegawai sebenarnya sama dengan tujuan latihan pegawai, yaitu untuk memperoleh
tiga hal, diantaranya:
1. Menambah pengetahuan
2. Penambah keterampilan
3. Merubah sikap
Adapun tujuan dari kegiatan pengembangan pendidikan karyawan
menurut Schuler (1992), antara lain :
1. Mengurangi dan menghilangkan kinerja
buruk
Dalam hal ini kegiatan pengembangan akan meningkatkan
kinerja pegawai saat ii, yang dirasakan kurang dapat bekerja secara efektif dan
ditunjukkan untuk dapat mencapai efektivitas kerja sebagaimana yang diharapkan
oleh organisasi.
2. Meningkatkan produktivitas
Dengan mengikuti kegiatan pengembangan, berarti pegawai juga
memperoleh tambahan keterampilan dan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi
pelaksanaan pekerjaan mereka.
3. Meningkatkan fleksibilitas dari
angkatan kerja
Dengan semakin banyaknya keterampilan yang dimiliki pegawai,
maka akan lebih fleksibel dan mudah untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan
adanya perubahan yang terjadi dilingkungan organisasi.
4. Meningkatkan komitmen karyawan
Dengan melalui kegiatan pengembangan pendidikan, pegawai
diharapkan akan memiliki persepsi yang baik tentang organisasi yang secara
tidak langsung akan meningkatkan komitmen kerja pegawai serta dapat memotivasi
mereka untuk menampilkan kinerja yang baik.
5. Mengurangi turn over dan absensi
Bahwa dengan semakin besarnya komitmen pegawai terhadap
organisasi, akan memberikan dampak terhadap adanya pengurangan tingkat turn over absensi.
Selain itu,adapun
manfaat dari pengembangan pendidikan karyawan, antara lain:
2.
Menurut Simamora (1995:29) yang dikutip
oleh tribun-maluku.com menyebutkan manfaat-manfaat yang diperoleh dari
diadakannya pengembangan
pendidikan karyawan yaitu:
a.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas
produktivitas
b.
Mengurangi waktu belajar yang diperlukan
karyawan untuk mencapai standar-standar kinerja yang ditentukan
c.
Menciptakan sikap, loyalitas dan
kerjasama yang lebih menguntungkan
d.
Memenuhi persyaratan perencanaan sumber
daya manusia
e.
Mengurangi jumlah dan biaya kecelakaan
kerja
f.
Membantu karyawan dalam peningkatan dan
pengembangan pribadi mereka
3.
Menurut Siagian (1996) menyebutkan
manfaat diadakannya program pengembangan pendidikan karyawan dibedakan menjadi
dua, yaitu:
A.
Manfaat bagi perusahaan atau instansi,
meliputi :
a.
Peningkatan produktivitas kerja
organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan,
karena kecermatan melaksanakan tugas, tumbuh suburnya kerjasama antara berbagai
satuan kerja yang melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bukan spesialistik,
meningkatkan tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkankan serta lancarnya
koordinasi sehingga organisasai bergerak sebagai satu kesatuan yang utuh
b.
Terwujudnya hubungan yang serasi antara
atasan dan bawahan antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi
yang didasarkan pada sikap dewasa baik secara teknik maupun intelektual, saling
menghargai, dan adanya kesepatan bagi bawahan untuk berpikir dan bertindak
secara inovatif
c.
Terjadinya proses pengambilan keputusan
yang lebih cepat dan tepat karena melibatkan seluruh pegawai yang
bertanggungjawab menyelenggarakan kegiatan-kegiatan operasional dan tidak
sekedar diperintahkan oleh para manajer
d.
Meningkatkan kesempatan kerja seluruh
tenaga kerja dalam organisasi dalam komitmen organisasional yang lebih tinggi
e.
Mendorong sikap keterbukaan manajemen
melalui penerapan gaya manajerial partisipatif
f.
Memperlancar jalannya komunikasi yang
efektif yang pada gilirannya memperlancar proses perumusan kebijaksanaan
organisasi dan operasionalnya
g.
Penyelesaian konflik secara fungsional
yang dampaknya adalah tumbuh suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan
dikalangan anggota organisasi.
B.
Manfaat bagi para pegawai, seperti :
a.
Membantu pegawai membuat keputusan lebih
baik
b.
Meningkatkan kemampuan para pekerja
menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi
c.
Terjadinya internalisasi dan
operasionalisasi faktor-faktor motivasi
d.
Timbulnya dorongan dalam diri para
pekerja untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya
e.
Peningkatan kemampuan pegawai untuk
mengatasi stres, frustrasi dan konflik yang nantinya bisa memperbesar rasa
percaya pada diri sendiri
f.
Tersedianya informasi tentang berbagai
program yang dapat dimanfaatkan oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan
masing-masing secara teknik maupun intelektual
g.
Meningkatnya kepuasan kerja
h.
Semakin besarnya pengakuan atas
kemampuan seseorang
i.
Semakin besarnya tekad pekerja untuk
lebih mandiri
j.
Mengurangi ketakutan menghadapi tugas
baru dimasa depan
k.
Berdasarkan pemaparan diatas di atas
bisa simpulkan bahwa manfaat yang dapat dari pelaksanaan program pengembangan
adalah bermanfaat untuk individu dan juga bermanfaat bagi organisasi untuk
mencapai tujuan, karena peningkatan kualitas pegawai bermanfaat juga kepada
peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan.
C. Jenis-Jenis Pendidikan Karyawan
a. Pendidikan secara informal
yaitu karyawan atas keinginan dan usaha sendiri melatih dan
mengembangkan dirinya dengan mempelajari buku-buku literatur yang ada
hubunganya dengan pekerjaan atau jabatanya. Pendidikan secara informal
menunjukan bahwa karyawan tersebut berkeinginan keras untuk maju dengan cara
meningkatkan kemampuan kerjanya. Hal ini bermanfaat bagi perusahaan karena
prestasi kerja karyawan semakin besar, di samping efisiensi dan profutifitasnya
juga semakin baik
b.
Pendidikan
secara formal
yaitu karyawan ditugaskan perusahaan untuk mengikuti
pendidikan atau latihan, baik yang dilakukan perisahaan maupun yang di
laksanakan oleh lebaga-lembaga pendidikanatau pelatihan. Pendidikan secara
formal dilakukan perusahaan karena tuntutan pekerjaan saat ini ataupun masa
datang, yang sifatnya nonkarier atau peningkatanya kaier sorang karyawan
D.
Strategi-Strategi yang digunakan
dalam pengembangan pendidikan karyawan
Dalam
pengembangan pendidikan karyawan tidak boleh dilakukan secara sembarangan
karena hal ini menyangkut kualitas karyawan untuk sebuah organisasi atau
perusahaan. karyawan yang berkualitas akan membantu perusahaan untuk dapat
lebih berkembang dan mencapai tujuan perusahaan.
Adapun strategi-strategi
pengembangan pendidikan karyawan pada perusahaan, antara lain:
Ø
Memberi kesempatan kepada karyawan untuk
menyalurkan ide dan gagasan
Perusahaan yang berkembang adalah perusahaan yang mau menerima ide dan gagasan dari para karyawannya. Dalam suatu perusahaan, karyawan juga berkontribusi dalam mengembangkan perusahaan atau sebagai roda penggerak suatu perusahaan. Karyawan juga butuh dihargai dengan menyediakan tempat untuk mencurahkan semua ide dan gagasan yang mereka punya. Tidak dipungkiri bahwa karyawan juga memiliki ide dan gagasan yang lebih fresh dan lebih potensial.
Perusahaan yang berkembang adalah perusahaan yang mau menerima ide dan gagasan dari para karyawannya. Dalam suatu perusahaan, karyawan juga berkontribusi dalam mengembangkan perusahaan atau sebagai roda penggerak suatu perusahaan. Karyawan juga butuh dihargai dengan menyediakan tempat untuk mencurahkan semua ide dan gagasan yang mereka punya. Tidak dipungkiri bahwa karyawan juga memiliki ide dan gagasan yang lebih fresh dan lebih potensial.
Dengan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menyalurkan ide
mereka, berarti membiarkan karyawan tersebut berkembang dan mengembangkan
potensi yang mereka miliki.Hilangkan sikap otoriter yang tidak ingin
mendengarkan ide, gagasan ataupun saran dari karyawannya karena hal tersebut
hanya akan membuat karyawan menjadi tidak berkembang dan kurang produktif serta
membentuk karyawan sebagai sebuah mesin untuk bekerja.
Ø
Memberi penghargaan.
Memberi penghargaan kepada karyawan merupakan salah satu strategi pengembangan SDM, karena pemberian penghargaan merupakan satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya. Dengan adanya pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi, hal tersebut akan membuat karyawan lainnya termotivasi untuk dapat menjadi lebih baik. Hal tersebut akan memberi kontribusi besar terhadap perusahaan dalam mengembangkan perusahaannya.
Memberi penghargaan kepada karyawan merupakan salah satu strategi pengembangan SDM, karena pemberian penghargaan merupakan satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya. Dengan adanya pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi, hal tersebut akan membuat karyawan lainnya termotivasi untuk dapat menjadi lebih baik. Hal tersebut akan memberi kontribusi besar terhadap perusahaan dalam mengembangkan perusahaannya.
Ø
Mengadakan pelatihan.
Pelatihan dilakukan bukan semata-mata untuk pribadi karyawannya saja, namun juga perusahaannya. Perusahaan tidak akan berkembang tanpa karyawan yang memiliki keterampilan dan minat kerja yang tinggi. Dengan adanya pelatihan, diharapkan mampu menggali potensi para karyawan dan mengembangkan keterampilan yang mereka miliki.
Pelatihan dilakukan bukan semata-mata untuk pribadi karyawannya saja, namun juga perusahaannya. Perusahaan tidak akan berkembang tanpa karyawan yang memiliki keterampilan dan minat kerja yang tinggi. Dengan adanya pelatihan, diharapkan mampu menggali potensi para karyawan dan mengembangkan keterampilan yang mereka miliki.
2.2 PELATIHAN
KARYAWAN
Pelatihan
merupakan salah satu faktor pendukung dalam pencapaian tujuan organisasi,
dengan pelatihan, karyawan diharapkan mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan
jabatannya.
A.
Pengertian
Pelatihan
Penggunaan
istilah pengertian (training) dikemukakan
oleh beberapa ahli. Berikut ini merupakan pengertian pelatihan menujrut
beberapa ahli, meliputi :
1. Menurut
Adrew E. Sikula mengemukakan bahwa pelatihan atau training adalah suatu proses pendidikan jangka pendek yang
mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisasi, pegawai non manajerial
mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis dalam tujuan yang terbatas.
2. Di
dalam Intrusi Presiden (Inpres) nomor 15 tahun 1974 menjelaskan pengertian
pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang mengaitkan proses belajar mengajar
untuk meningkatkan keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku didalam
waktu yang relative singkat dan dengan metode yang lain mengutamakan praktik
daripada teori.
3. Menurut
H.John Bernandian dan Joyce E.A.Russel yang dikutip oleh Drs. Faustino Cardoso
Gomes (2003:197) men jelaskan bahwa
pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu
pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggungjawabnya, atau suatu pekerjaan
yang ada kaitannya dengan pekerjaannya.
4. Menurut
Mangkuprawira (2003:135) berpendapat bahwa pelatihan bagi karyawan adalah
sebuah prosesmengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar
karyawan semakin trampil danmampu dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan
semakin baik sesuai dengan standar.
Berdasarkan
pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pelatihan merupakan suatu
kegiatan yang bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku
keterampilan dan pengetahuan dari karyawannya sesuai dengan keinginan
perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan.
B.
Tujuan
dan Manfaat Pelatihan
Tujuan
diadakannya pelatihan yang diselenggarakan perusahaan terhadap karyawan
dikarenakan perusahaan menginginkan adanya perubahan dalam prestasi kerja
karyawan sehingga dapat sesuai dengan tujuan perusahaan.
Cut Zurnali (2004) memaparkan beberapa manfaatpelatihan yang
diselenggarakan oleh perusahaan yang dikemukakan oleh Noe, Hollenbeck, Gerhart,
Wright (2003), yaitu:
a. Meningkatkan pengetahuan para
karyawan atas budaya dan para pesaing luar,
b. Membantu para karyawan yang
mempunyai keahlian untuk bekerja dengan teknologi baru,
c. Membantu para karyawan untuk
memahami bagaimana bekerja secara efektif dalam tim untuk menghasilkan jasa dan
produk yang berkualitas,
d. Memastikan bahwa budaya perusahaan
menekankan pada inovasi, kreativitas dan pembelajaran,
e. Menjamin keselamatan dengan
memberikan cara-cara baru bagi para karyawan untuk memberikan kontribusi bagi
perusahaan pada saat pekerjaan dan kepentingan mereka berubah atau pada saat
keahlian mereka menjadi absolut,
f. Mempersiapkan para karyawan untuk
dapat menerima dan bekerja secara lebih efektif satu sama lainnya, terutama
dengan kaum minoritas dan para wanita.
Sedangkan menurut Beach (1980:359)
tujuan perusahaan meliputi sebagai berikut :
a. Reduce
learning time to each acceptable permormance, maksudnya adalah dengan adanya
pelatihan maka jangka waktu yang digunakan karyawan untuk memperoleh
keterampilan akan lebih cepat. Karyawan akan lebih cepat pula menyesuaikan diri
dengan pekerjaan yang dihadapinya.
b. Improve
performance on present job, maksudnya adalah pelatihan bertujuan untuk meningkatkan
prestasi kerja karyawan dalam hal menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang sedang
dihadapi.
c. Attitude
formation, pelatihan
diharapkan dapat membentuk sikap dan tingkah laku para karyawan dalam melakukan
pekerjaannya. Dititikberatkan pada peningkatan partisipasi dari karyawan,
kerjasama antar karyawan dan loyalitas terhadap perusahaan.
d. Aid
in solving operation problem, pelatihan membantu memecahkan masalah-masalah operasional
perusahaan sehari-hari seperti mengurangi kecelakaan kerja, mengurangi absen,
dan lain-lain.
e. Fill
manpower needs, pelatihan
tidak hanya mempunyai tujuan jangka pendek tetapi juga jangka panjang yaitu
mempersiapkan karyawan karyawan memperoleh keahlian dalam bidang tertentu yang
dibutuhkan perusahaan.
f. Benefits
to employee themselves, dengan
pelatihan diharapkan para karyawan akan mempunyai kemampuan dan pengetahuan
yang tinggi sehingga karyawan sehingga karyawan tersebut akan semakin berharga
bagi perusahaan. Selain itu juga akan menambah nilai dari karyawan tersebut
yang akan membuat karyawan yang bersangkutan memperoleh rasa aman dalam
melakukan pekerjaannya sehingga menimbulkan kepuasan dalam dirinya.
Pelatihan bertujuan sebagai sarana untuk lebih mengaktifkan
kerja para anggota organisasi yang kurang aktif sebelumnya, mengurangi
dampak-dampak negatif yang disebabkan kurangnya pendidikan, pengalaman yang terbatas,
atau kurangnya kepercayaan diri dari anggota atau kelompok anggota tertentu.
Tujuan pelatihan terebut akan terlaksana dengan baik apabila pelatihan
diberikan secara tepat dan adanya kerjasama yang baik antara karyawan maupun
pimpinan.
C.
Jenis-Jenis Pelatihan
Pelatihan atau training pada sumber daya manusia dibagi menjadi beberapa jenis.
Setidaknya ada lima jenis pelatihan yang biasa diselenggarakan, diantaranya
adalah:
1.
Pelatihan Keahlian atau Skill Training
Skill
training atau yang
dikenal juga dengan pelatihan keahlian adalah jenis pelatihan yang diadakan
dengan tujuan agar peserta mampu menguasai sebuah skill atau keterampilan baru yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Keahlian yang diajarkan dalam pelatihan ini biasanya akan diberikan kepada
karyawan yang dianggap belum menguasai sebuah keahlian tertentu. Contoh
pelatihan keahlian misalnya adalah training manajemen atau training leadership.
2.
Pelatihan Ulang atau Retraining
Retraining atau pelatihan ulang adalah
pelatihan pada sumber daya manusia yang diberikan kepada karyawan untuk
menghadapi tuntutan kerja yang semakin berkembang.Teknologi, ilmu pengetahuan,
dan dunia yang semakin berkembang memaksa semua orang untuk terus maju dan
menyesuaikan diri tidak terkecuali karyawan perusahaan. Mereka harus selalu
menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman dan inovasi terbaru sehingga mereka
memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan karyawan dari perusahaan –
perusahaan lain. Salah satu contoh dari retraining
adalah pelatihan penggunaan komputer hingga internet bagi karyawan yang selama
ini hanya menggunakan mesin ketik untuk membuat dokumen – dokumen perusahaan.
3.
Cross
Functional Training
Cross
functional training
merupakan pelatihan yang dilakukan dengan meminta karyawan untuk melakukan
aktivitas pekerjaan tertentu diluar bidang pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.
Cross function training sangat
bermanfaat bagi semua karyawan sehingga mereka mampu memahami cara kerja
organisasi perusahaan secara lebih luas tidak hanya berkutat pada tugas
kerjanya saja. Salah satu contoh cross
functional training adalah meminta staff bagian keuangan untuk membantu
tugas staff HRD dalam menyeleksi karyawan baru.
4. Pelatihan Kreatifitas atau Creativity Training
Pelatihan kreatifitas merupakan sebuah pelatihan pada sumber daya
manusia yang bertolak belakang dari anggapan bahwa kreatifitas sebenarnya bukan
bakat melainkan sebuah skill yang bisa dipelajari. Dalam perusahaan sendiri,
ada berbagai posisi dan jabatan yang membutuhkan kreatifitas tinggi, diantaranya
adalah marketing, manajer, promosi, supervisor, dan lain sebagainya. Mereka
dituntut untuk bisa kreatif dalam memimpin anak buahnya serta bisa kreatif
menuangkan ide – ide baru yang segar dan
inovatif untuk kepentingan perusahaan. Pelatihan kreatifitas harus ditunjang
dengan kebebasan berpendapat dan mengeluarkan gagasan selama gagasan dan
pendapat tersebut rasional, penuh perhitungan, dan sudah dikalkulasi untung
ruginya bagi perusahaan
5. Team Training
Dalam sebuah perusahaan karyawan
tidak hanya dituntut untuk bekerja sendiri namun juga bekerja secara tim dalam
sebuah divisi, bagian, dan bahkan dituntut untuk bisa bekerja dalam keseluruhan
tim organisasi perusahaan. Pelatihan pada sumber daya manusia yang satu ini
ditujukan bagi sekelompok karyawan agar mereka bisa terbiasa bekerja dalam tim,
mampu menempatkan diri dalam sebuah tim, dan mampu bekerja sama dengan anggota
tim yang lain sehingga pekerjaan dan tujuan bisa diselesaikan dengan lebih
cepat dan efektif.
Sebelum memutuskan untuk menggelar
atau mengadakan sebuah training, perusahaan terlebih dahulu akan melakukan training need analysis atau analisis
kebutuhan training. Analisis kebutuhan training ini sangat penting untuk
mengetahui kebutuhan training seperti apa yang dibutuhkan oleh sebuah
perusahaan. Dari data – data yang terkumpul nantinya perusahaan akan bisa
menentukan jenis training mana yang dibutuhkan. Selain itu analisis kebutuhan
training juga akan membantu perusahaan dalam menyusun konsep training termasuk
didalamnya adalah peserta training, dukungan, biaya, hingga materi training
yang harus disampaikan.
D.
Prinsip-Prinsip Pelatihan Karyawan
Sebelum melaksanakan pelatihan, ada
beberapa prinsip pelatihan yang harus diketahui, sehingga arah dan sasaran
pelaksanaan pelatihan menjadi lebih jelas dan lebih mudah.
Menurut Werther dan Davis (1996:290)
yang dikutip oleh Herman sofyadi (2008:115-156) mengemukakan ada 5 prinsip
pelaksanaan pelatihan, antara lain :
1.
Participation, artinya dalam pelaksanaan pelatihan
para peserta harus ikut aktif karena dengan partisipasi peserta maka akan lebih
cepat mengusai dan mengetahui berbagai macam materi yang diberikan.
2.
Repetition, artinya senantiasa dilakukan secara
berulang, karena dengan ulangan-ulangan ini peserta akan lebih cepat untuk
memahami dan mengingat apa yang telah diberikan.
3.
Relevance, artinya harus saling berhubungan,
sebagai contoh para peserta pelatihan terlebih dahulu diberikan penjelasan secara umum tentang
suatu pekerjaan sebelum mereka mempelajari hal-hal khusus dari pekerjaan
tersebut.
4.
Transference, artinya program pelatihan harus
disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang nantinya akan dihadapi dalam
pekerjaan yang sebenarnya.
5.
Feedback, artinya setiap program pelatihan
yang dilaksanakan selalu dibutuhkan adanya umpan balik yaitu untuk mengukur
sejauh mana keberhasilan dari program pelatihan tersebut. Dengan adanya umpan
balik ini, maka peserta akan dapat memperoleh informasi tentang hasil yang
dicapai, dan hal ini akan meningkatkan motivasi mereka dalam bekerja serta
dapat mengetahui hasil kerja mereka.
Berdasarkan
pendapat Moekijat (1993 :4-5) yang dikutip oleh Weni Fitriawati (2003:42)
tentang prinsip-prinsip pelatihan adalah :
a. Individual
Difference
Perencanaan dan pelaksanaan suatu
pelatihan harus tetap mengingat adanya perbedaan perseorangan pengikut training baik
dalam latar belakang pendidikan, pengalaman maupun keinginan.Sehingga pelatihan
tersebut memberikan hasil yang memuaskan.
b. Relation to
Job analysis
Job specification untuk
suatu jabatan tertentu biasanya menjelaskan pendidikan yang harus dimiliki
calon pekerja untuk dapat melaksanakan tugas itu dengan berhasil. Oleh karena itu bahan yang diajarkan dalam pendidikan harus berhubungan
dengan apa yang dinyatakan dalam job specification.
c. Motivation
Orang akan
bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas tertentu bila ada daya
perangsangnya. Kenaikan upah atau kenaikan kedudukan adalah beberapa daya
perangsang yang dapat digunakan untuk merangsang para pengikut pelatihan.
d. .Active Participation.
Para pengikut
pelatihan harus aktif ambil bagian dalam pembicaraan. Oleh karena itu pelatihan
harus juga dapat memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran dengan pelatih.
Dengan demikian pengikut pelatihan turut aktif selama pelatihan berlangsung.
e. Selection of Trains
Seleksi atau
pemilihan calon pengikut pelatihan perlu dilakukan untuk menjaga agar perbedaan
tidak terlalu besar. Pelatihan sebaiknya diberikan kepada mereka
yang berminat dan menunjukkan bakat untuk dapat mengikuti pelatihan dengan
berhasil. Adanya seleksi juga merupakan perangsang.
f. Selection of Trainer
Tidak semua
orang dapat menjadi pengajar yang baik. Jabatan pengajar perlu suatu
kualifikasi tersendiri, oleh karenanya orang menganggap pula bahwa salah satu
asas penting dari pelatihan adalah tersedianya tenaga pelatih yang berminat dan
mempunyai kesanggupan untuk mengajar.
g. Trainer Training
Para pelatih
dalam suatu pelatihan harus sudah mendapat pendidikan secara khusus untuk
menjadi tenaga pelatih. Karena itu tidak semua orang yang menguasai dalam suatu
bidang tertentu dapat mengajarkan kepandaiannya kepada orang lain.
h. Training method
Metode
pelatihan harus cocok dengan pelatihan yang diberikan. Misalnya metode
memberikan kuliah tidak tepat untuk para mandor. Karenanya dalam program
pelatihan harus pula diperhatikan metode pendidikan yang bagaimana yang harus
dianut dalam memberikan pelatihan.
i.
Principles of
Learning
Orang akan
lebih mudah menangkap pelajaran apabila didukung oleh pedoman tentang cara-cara
belajar dengan cara efektif bagi para karyawan. Prinsip-prinsip ini adalah
bahwa program bersifat partisipatif, relevan serta memberikan umpan balik
mengenai kemajuan para peserta pelatihan.”
E. Tahap-tahap pelatihan
Menurut
Drs. Faustino Cardoso Gomes (2003:204-2013) terdapat paling kurang tiga tahap
utama dalam pelatihan dan pengembangan, antara lain :
1)
Penentuan kebutuhan pelatihan (Assessing Training Needs)
Adalah
lebih sulit untuk menilai kebutuhan-kebutuhan pelatihan bagi para pekerja yang
ada, daripada mengorientasikan para pegawai yang baru. Dari satu segi,
kedua-duanya sama. Tujuan penentuan kebutuhan pelatihan ini adalah untuk
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan guna mengetahui ataumenentukan
apakah perlu atau tidaknya pelatihan dalam organisasi tersebut. Semua informasi yang berkisar pada hal-hal
tersebut akan diperoleh melalui analisis pada level organisasi, level
pekerjaan, dan level individu atau pekerja.
Dalam tahapan ini terdapat tiga macam kebutuhan akan
pelatihan yaitu:
a.
General
treatment need, yaitu
penilaian kebutuhan pelatihan bagi semua pegawai dalam suatu klasifikasi
pekerjaan tanpa memperhatikan data mengenai kinerja dari seseorang pegawai
tertentu. Misalnya, semua supervisor yang baru diangkat diharuskan
untuk mengikuti pelatihan dalam metode-metode supervisi.
b. Oversable performance
discrepancies, yaitu
jenis penilaian kebutuhan pelatihan yang didasarkan pada hasil pengamatan
terhadap berbagai permasalahan, wawancara, daftar pertanyaan, dan evaluasi atau penilaian kinerja, dan dengan cara
meminta para pekerja untuk mengawasi sendiri hasil kerjanya sendiri. Permasalahan
seperti, tidak dipatuhinya standart pelaksanaan kerja, beberapa penilaian yang
rendah atas laporan evaluasi pekerja, tingginya tingkat pergantian, dan lain
sebagainya.
c. Future human resources neeeds, yaitu jenis keperluan pelatihan
ini tidak berkaitan dengan ketidaksesuaian kinerja, tetapi Iebih berkaitan
dengan sumberdaya manusia untuk waktu yang akan datang. Misalnya,
pelatihan para pegawai yang ada bagi pengguna mikrokomputer. Jadi, pelatihan
jenis ini tidak didasarkan pada ketidaksesuaian kinerja, tetapi lebih sebagai
antisipasi kemungkinan ketidaksesuaian diwaktu yang akan datang karena adanya
perubahan-perubahan dalam misi dan kemajuan teknologi yang harus diantisipasi
dengan latiham-latihan.
2) Mendesain program pelatihan (desaigning
a training program)
Sebenarnya
persoalan performansi bisa disiatasi melalui perubahan dalam system feedback,
seleksi atau imbalan, dan juga melalui pelatihan. Atau akan Iebih mudah dengan
melakukan pemecatan terhadap pegawai selama masa percobaannya.
Menurut Werther
dan Davis (1996:291) yang di kutip oleh Herman sofyandi (2003:116-119) ada
bebrapa metode yang digunakan oleh perusahaan dalam melaksanakan program
pelatihan, diantaranya:
On
The Job Technique
Di dalam kamus bisnis, pengertian on the job technique adalah pelatihan kerja praktis yang
berlangsung dalam situasipekerjaan yang sebenarnya. Pelatihan dapat berlangsung dari beberapa
jam sampai beberapa bulan tergantung pada keterampilan yang harus
dipelajari. Juga disebut pelatihan
informal.
Di dalam on the job technique, dibagi dalam
beberapa metode, yaitu :
1.
Job Instruction
Training (Latihan Instruktur Pekerjaan)
Adalah dengan memberikan petunjuk-petunjuk pekerjaan secara langsung pada pekerjaan dan terutama digunakan untuk melatih para karyawan tentang cara-cara pelaksanaan pekerjaan sekarang dibawah instruksi supervisor, seorang trainer, atau karyawan senior yang sudah berpengalaman. Pada metode ini akandidaftar semua langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pekerjaan sesuai dengan urutannya.
2. Job Rotation (Rotasi Pekerjaan)
Dalam rotasi jabatan karyawan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan pada bagian-bagian organisasi yang berbeda dan juga praktek berbagai macam ketrampilan dengan cara berpindah dari satu pekerjaan atau bagian ke pekerjaan atau bagian lain. Dengan metode ini, diharapkan peserta program dapat mengetahui dan mengerti tugas masing-masing.
3. Apprenticeships
Merupakan proses belajar dari seseorang atau beberapa orang yang lebih berpengalaman. Metode ini digunakan untuk mengembangkan keahlian perorangan, sehingga para karyawan yang bersangkutan dapat mempelajari segala aspek dari pekerjaannya. Pada umumnya, metode ini mengkombinasikan antara on the job training dan off job classroom training.
4. Coaching
Adalah suatu cara pelaksanaan pelatihan dimana atasan mengajarkan keahlian dan ketrampilan kerja kepada bawahannya. Dalam metode ini pengawas diperlukan sebagai petunjuk untuk memberitahukan kepada peserta mengenai tugas atau pekerjaan rutin yang akan dilaksanakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Metode ini hampir sama dengan apprenticeship tetapi kurang formal, sebab pelatihan yang dijelaskan lebih sedikit dan dilaksanakan bila diperlukan saja. Serta tidak direncanakan terlebih dahulu.
Adalah dengan memberikan petunjuk-petunjuk pekerjaan secara langsung pada pekerjaan dan terutama digunakan untuk melatih para karyawan tentang cara-cara pelaksanaan pekerjaan sekarang dibawah instruksi supervisor, seorang trainer, atau karyawan senior yang sudah berpengalaman. Pada metode ini akandidaftar semua langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pekerjaan sesuai dengan urutannya.
2. Job Rotation (Rotasi Pekerjaan)
Dalam rotasi jabatan karyawan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan pada bagian-bagian organisasi yang berbeda dan juga praktek berbagai macam ketrampilan dengan cara berpindah dari satu pekerjaan atau bagian ke pekerjaan atau bagian lain. Dengan metode ini, diharapkan peserta program dapat mengetahui dan mengerti tugas masing-masing.
3. Apprenticeships
Merupakan proses belajar dari seseorang atau beberapa orang yang lebih berpengalaman. Metode ini digunakan untuk mengembangkan keahlian perorangan, sehingga para karyawan yang bersangkutan dapat mempelajari segala aspek dari pekerjaannya. Pada umumnya, metode ini mengkombinasikan antara on the job training dan off job classroom training.
4. Coaching
Adalah suatu cara pelaksanaan pelatihan dimana atasan mengajarkan keahlian dan ketrampilan kerja kepada bawahannya. Dalam metode ini pengawas diperlukan sebagai petunjuk untuk memberitahukan kepada peserta mengenai tugas atau pekerjaan rutin yang akan dilaksanakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Metode ini hampir sama dengan apprenticeship tetapi kurang formal, sebab pelatihan yang dijelaskan lebih sedikit dan dilaksanakan bila diperlukan saja. Serta tidak direncanakan terlebih dahulu.
2.
Off
the job technique
Metode off the job adalah pelatihan yang
menggunakan situasi di luar pekerjaan.Dipergunakan apabila banyak pekerja yang
harus dilatih dengan cepat seperti halnya dalam penguasaan pekerjaan, di
samping itu juga apabila pelatihan dalam pekerjaan tidak dapat dilakukan karena sangat mahal. Ada beberapa metode yang digunakan dalam off the job technique, diantaranya:
1. Lecture
Merupakan metode pelatihan dengan memberikan kuliah atau ceramah dalam rangka penyampaian informasi-informasi yang dibutuhkan peserta dan diorganisasikan secara formal.Metode ini mengeluarkan biaya yang tidak tinggi, namun kelemahannya adalah peserta kurang partisipasi karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah saja. Hal ini dapat diatasi apabila selama proses kuliah diadakan diskusi pembahasan masalah dan lain sebagainya.
2. Video Presentation
Metode ini hampir sama dengan pemberian kuliah, tetapi prestasi yang dilakukan melalui media televisi, film, slides dan sejenisnya.
3. Vestibule Training
Merupakan pelatihan yang dilakukan dalam suatu ruangan khusus yang terpisah dari tempat kerja biasa dan disediakan jenis pelaralatan yang sama seperti yang akan digunakan pada pekerjaan sebenarnya, sehingga tidak mengganggu jalannya operasional perusahaan.
4. Role Playing
Disini para peserta program diharuskan melakukan permainan untuk memainkan berbagai peran orang tertentu dan diminta untuk menanggapi para peserta lain yang berbeda perannya. Teknik ini dapat mengubah sikap peserta, seperti misalnya: menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan juga dapat mengembangkan ketrampilan-ketrampilan antar pribadi.
5. Case
Study
Dalam metode ini, dipelajari kondisi nyata perusahaan selama jangka waktu tertentu dan bagaimana bertindak dalam kondisi demikian. Disamping itu, para peserta pelatihan dihadapakan pada beberapa kasus tertulis dan diharuskan untuk memecahkan dan mengidentifikasi masalah-masalah tersebut, menganalisis situasi, serta merumuskan penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode ini, karyawan dapat mengembangkan keterampilan didalam pengambilan keputusan.
6. Simulation
Simulasi merupakan suatu situasi atau kejadian yang ditampilkan semirip mungkin dengan situasi yang sebenarnya, tetapi hanya merupakan tiruan saja dan para pelatihan harus memberikan respon seperti dalam kejadian yang sebenarnya. Ada 2 bentuk simulasi, yaitu mechanical dimulation dan computer simulation.Motode ini dimaksudkan agar para peserta lebih mengenal dan membiasakan diri dengan tempat, situasi, kondisi, dan peralatan sebenarnya dari pekerjaan yang akan dijumpai.
7. Self Study
Merupakan teknik yang menggunakan modul-modul tertulis dan kaset-kaset atau video tape rekaman dan para peserta hanya mempelajarinya sendiri. Teknik ini tepat digunakan apabila jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dalam jumlah yang besar, pada karyawan tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda dan sulit mengumpulkan para karyawan sekaligus untuk bersama-sama mengikuti program pelatihan tertentu.
8. Programmed Learning
Dalam metode ini, diberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan para peserta pelatihan harus memberikan jawaban yang benar. Metode ini dapat juga melalui komputer yang sudah mempunyai program tersendiri agar para peserta dapat mempelajari dan memperinci selangkah demi selangkah dengan umpan balik langsung pada penyelesaian- setiap langkah. Masing-masing peserta pelatihan dapat menetapkan kecepatan belajarnya
Dalam metode ini, dipelajari kondisi nyata perusahaan selama jangka waktu tertentu dan bagaimana bertindak dalam kondisi demikian. Disamping itu, para peserta pelatihan dihadapakan pada beberapa kasus tertulis dan diharuskan untuk memecahkan dan mengidentifikasi masalah-masalah tersebut, menganalisis situasi, serta merumuskan penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode ini, karyawan dapat mengembangkan keterampilan didalam pengambilan keputusan.
6. Simulation
Simulasi merupakan suatu situasi atau kejadian yang ditampilkan semirip mungkin dengan situasi yang sebenarnya, tetapi hanya merupakan tiruan saja dan para pelatihan harus memberikan respon seperti dalam kejadian yang sebenarnya. Ada 2 bentuk simulasi, yaitu mechanical dimulation dan computer simulation.Motode ini dimaksudkan agar para peserta lebih mengenal dan membiasakan diri dengan tempat, situasi, kondisi, dan peralatan sebenarnya dari pekerjaan yang akan dijumpai.
7. Self Study
Merupakan teknik yang menggunakan modul-modul tertulis dan kaset-kaset atau video tape rekaman dan para peserta hanya mempelajarinya sendiri. Teknik ini tepat digunakan apabila jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dalam jumlah yang besar, pada karyawan tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda dan sulit mengumpulkan para karyawan sekaligus untuk bersama-sama mengikuti program pelatihan tertentu.
8. Programmed Learning
Dalam metode ini, diberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan para peserta pelatihan harus memberikan jawaban yang benar. Metode ini dapat juga melalui komputer yang sudah mempunyai program tersendiri agar para peserta dapat mempelajari dan memperinci selangkah demi selangkah dengan umpan balik langsung pada penyelesaian- setiap langkah. Masing-masing peserta pelatihan dapat menetapkan kecepatan belajarnya
9. Laboratory
Training
Teknik ini adalah merupakan suatu bentuk latihan kelompok yang terutama digunakan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan antar pribadi. Latihan ini bersifat sensivitas, dimana peserta menjadi lebih sensitif terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Laboratory Training ini berguna untuk mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan dating.
Teknik ini adalah merupakan suatu bentuk latihan kelompok yang terutama digunakan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan antar pribadi. Latihan ini bersifat sensivitas, dimana peserta menjadi lebih sensitif terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Laboratory Training ini berguna untuk mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan dating.
Dalam pelatihan, metode mana saja yang akan digunakan oleh suatu perusahaan
dalam melaksanakan program pelatihan, tidak ada satu pun metode yang lebih atau
paling baik. Diperlukan suatu kobinasi antara satu metode dengan metode
lainnya.
3.
Evaluasi efektifitas program (evaluating training
program effectivenees)
Supaya efektif, pelatihan harus merupakan
suatu solusi yang tepat bagi permasalahan organisasi, yakni bahwa pelatihan
tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki kekurangan keterampilan. Untuk
meningkatkan usaha belajarnya,para pekerja harus menyadari perlunya perolehan
informasi baru atau mempelajari keterampilan-keterampilan baru, dan keinginan
untuk belajar harus dipertahankan. Apa saja standar kinerja yang telah
ditetapkan, sang pegawai tidak harus dikecewakan oleh pelatih yang
menuntut terlalu banyak atau terlalau sedikit.
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk
menguji apakah pelatihan tersebut efektif di dalam mencapai sasaran-sasarannya
yang telah ditetapkan.Ini menghendaki identifikasi dan pengembangan criteria
tertentu.
a. Tipe-tipe efektifitas program pelatihan.
Program pelatihan bisa dievaluasi
berdasarkan informasi yang bisa diperoleh pada lima tingkatan:
1. reactions: Ukuran
mengenai reaksi ini didesain untuk mengetahui opini dari para peserta mengenai
program pelatihan. Usaha untuk mendapatkan opini para peserta tentang pelatihan
ini, terutama didasarkan pada beberapa alasan utama, seperti: untuk mengetahui
sejauh mana para peserta merasa
puas dengan program untuk maksud diadakannya bebrapa revisi atas program pelatihan,
untuk menjamin agar para peserta yang lain bersikap represif untuk mengikuti
program pelatihan.
2. Learning: Informasi
yang ingin diperoleh melalui jenis evaluasi ini adalah mengetahi seberapa jauh
para peserta menguasai konsep-konsep, pengetahuan, keterampilan-keterampilan
yang diberikan selama pelatihan.
3. Behaviors: Perilaku
dari para peserta, sebelum dan sesudah pelatihan, dapat dibandingkan guna
mengetahui tingkat pengaruh pelatihan terhadap perubahan performansi mereka.
Langkah ini penting karena sasaran dari pelatihan adalah untuk mengubah
perilaku atau performansi para peseerta pelatihan setelah diadakan program
pelatihan.
4. Organizational result: tujuan
dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan
terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan.
5. Cost effectivity: ini
dimaksudkan untuk mengetahui besarnya biaya yang dihabiskan bagi program
pelatihan, dan apakah besarnya biaya untuk pelatihan tersebut terhitung kecil
atau besar dibandingkan biaya yang timbul dari permasalah yang dialami oleh
organisasi.
b. Model-model penialaian
effektifitas pelatihan.
Proses evaluasi
itu sendiri bisa mendorong para pegawai untuk meningkatkan produktifitasnya.
Untuk mengetahui dampak dari pelatihan itu secara keseluruhan terhadap hasil
atau performansi seseorang atau suatu kelompok tertentu, umumnya terdapat dua
pilihan model penilaian yaitu:
1. Uncontrolled
model.
Model pertama ini bisanya tidak memakai
kelompok pembanding dalam melakukan penilaian dampak pelatihan terhadap hasil
dan/atau performansi kerjanya.
2. Controlled
model.
Model kedua adalah model yang dalam melakukan
penilaian efektivitas program pelatihan menggunakan sistem membanding yaitu
membandingkan hasil dari orang atau kelompok yang tidak mengikuti pelatihan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas
dapat kita simpulkan bahwa pengembangan
pendidikan dan pelatihan dapat didefinisikan sebagai
usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan karyawan. Dan sangatlah penting dalam menunjang
potensi yang dimiliki oleh seorang karyawan dalam melakukan sesuatu, sehingga
dengan potensi tersebut akan menumbuhkan percaya diri karyawan dan meningkatkan produktivitas karyawan.
Di butuhkan strategi-strategi dan metode-metode khusus
untuk melakukan proses pengembangan berupa pendidikan dan pelatihan karyawan
sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan biaya
yang digunakan untuk program tersebut. Setelah program pengembangan dan pelatihan
karyawan selesai, perlu adanya evaluasi untuk mengetahui sejauh mana karyawan
dapat mengimplementasikan manfaat dari program tersebut dalam melakukan
pekerjaannya.
terimakasih untuk makalahnya kak.. boleh minta lampiran daftar pustakanya juga kak?
BalasHapus